MUSLIMAH
DA`IYAH SEJATI
Oleh : Ummu Hafizh
Pengantar
Muslimah
pengemban dakwah (da`iyah) sejatinya
menyadari kedudukannya sebagai pemimpin umat. Oleh karena itu dia harus bisa
meningkatkan kualitasnya sehingga layak menjadi pemimpin yang baik di tengah-tengah
masyarakat. Untuk menjadi pemimpin yang baik di tengah-tengah umat. Muslimah
da`iyah dituntut agar senantiasa menyeimbangkan antara dakwah dan urusan rumah
tangganya. Wanita pengemban dakwah harus bisa menyeimbangkan antara kewajiban
dakwah dengan kewajiban terhadap anak,suami,orangtua dan tetangga. Ketimpangan
menjalankan keseimbangan ini akan menjadi noda di tengah-tengah umat dan akan
membahayakan dakwah itu sendiri.
Muslimah yang
sudah menikah wajib mengetahui tugas pokok wanita, yaitu sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Jikania belum menikah,
maka baginya ada kewajiban “Birrul Walidayn”. Selain itu kewajiban yang lain
tidak boleh diabaikan terutama silaturrahmi dengan kerabat dan ukhuwah dengan tetangga.
Muslimah
pengemban dakwah harus menyadari bahwa dirinya adalah teladan bagi masyarakat.
Karena itu, ia harus mampu menjadi ibu teladan, istri teladan,anak teladan yang
berbakti kepada orangtua, tetangga yang baik, kerabat yang rajin
bersilaturrahmi, dll.
Muslimah di Rumah Tangga.
Istri Teladan
Istri teladan
mampu memahami kebutuhan suami tercinta pendamping hidupnya. Sekalipun suami
pengemban dakwah, ia juga manusia yang sama seperti suami-suami yang lain.
Pengemban dakwah harus bisa menciptakan rumah tangga yang harmonis (rumahku surgaku),
juga kehidupan suami-istri yang romantis. Istri sholehah selalu berusaha
memelihara rumahnya dan memenuhi hak-hak suaminya. Dia selalu taat dan berbakti
kepada suami. Dia juga harus berbakti
kepada mertua dan menghormati keluarga suami.
Istri teladan
berusaha memperoleh dan mencurahkan cinta dan kasih sayang kepada suaminya,
dengan penampilan yang baik, kata-kata yang lembut serta pergaulan yang
disenangi suaminya. Dia selalu menyampaikan berita gembira. Jika ada berita
menyedihkan dan mengguncangkan jiwa suami. Ia akan memilih waktu dan cara yang
tepat.
Istri teladan
biasa membantu suami menaati Allah, baik dalam ibadahnya, dakwahnya, akhlaknya,
dll. Dengan itu, mereka berdua selalu berada di bawah naungan rahmat Allah Azza
wa jalla. Istri teladan selalu berusaha mengambil hati suami supaya tidak
timbul kebosanan, penyelewengan dan kekeruhan hati suami. Ia akan selalu
berhias untuk suami sehingga suami selalu melihatnya dalam keadaan cantik dan
menyenangkan.
Istri semakin
cantik di mata suami jika memiliki sifat ceria, riang,gembira dan ramah tamah.
Ketika pulang dalam keadaan letih, suami di sambut dengan wajah ceria,senyum
merekah dan kata-kata yang menyenangkan hingga lenyap keletihan dan beban
pikirannya. Istri teladan akan selalu berterima kasih setiap kali suami
melakukan kebaikan padanya.
Istri teladan
senantiasa menyertai suami saat suka dan duka, terutama ketika suami ada di
rumah. Ia menjadi penyejuk, penenang,pemaaf dan penghibur bagi suaminya. Dengan
penuh cinta kasih, istri berusaha mewujudkan ketenangan, kegembiraan,
kesejahteraan, ketenteraman, kenikmatan yang halal dan kebahagiaan pada suami
dan terus-menerus meraih/meminta keridhoannya.
Istri teladan
akan memberikan kesempatan kepada suami agar menjadi ujung tombak dakwah dan
mengobarkan apa pun demi dakwah. Ia sebagaimana Khadijah ra, yang mengorbankan
hartannya demi dakwah Nabi Saw. Dan menenangkan Beliau kalau mengarungi kesulitan di medan dakwah, ia seperti Fatimah
ra yang rela tangannya menjadi kasar karena tugas rumah tangga untuk memuluskan
langkah Ali ra, dalam kancah dakwah. Khadjah dan Fatimah tak pernah menuntut
harta, waktu dan beban rumah tangga yang berlebihan sehingga suami mereka lalai
dalam dakwah.
Istri teladan
adalah sahabat bagi suaminya. Layaknya kedua orang bersahabat, dalam rumah
tangga akan timbul saling mengerti, saling berbagi, dan saling menyayangi.
Ibu Teladan
Ibu teladan
mengemban tanggung jawab sebagai pendidik pertama dan utama bagi
generasi-generasi cerdas dan pencipta peradaban, yang pengaruhnya menyentuh
seluruh jagad raya. Sekalipun ibu teladan seorang aktivis dakwah, anak tetap
memiliki hak yang harus dipenuhi seperti anak-anak lainya. Kemuliaan,
kehormatan, kesuksesan,ketakwaan dan kepemimpinan para tokoh-tokoh besar di
kalangan Sahabat,Tabi`in dan Tabi`at at-Tabi`in merupakan hasil tangan dingin
dari para ibu-ibu yang agung, yang berhasil menanamkan jiwa kebesaran,
nilai-nilai kemuliaan, dan semangat yang tinggi ke dalam jiwa putra-putrinya.
Ibu teladan lebih
dekat serta mengenal keadaan dan perkembangan anak pada masa-masa pertumbuhan
dan puber yang merupakan masa paling rawan bagi kehidupan mental, jiwa dan
tingkah laku anak. Ibu teladan selalu meneteskan cinta, kasih sayang,
kelembutan,penuh perhatian, pengorbanan dan senantiasa memberikan perlindungan
kepada anak-anaknya, yang mengalir dari hatinya yang paling dalam. Anak pun
dapat hidup bahagia, jiwanya sehat dan jauh dari bebagai penyakit dan
permasalahan ; hatinya penuh keprcayaan dan ketenangan serta optimis.
Ibu teladan
mengerti jiwa, menghormati perbedaan karakter dan kecenderungan anak-anaknya
sehingga dapat memasuki jiwa anak dan menyelami dunia yang masih bersih dan
jernih, untuk menanamkan nilai-nilai luhur keislaman. Ibu teladan senantiasa
pandai menarik ahati anak agar mau membuka jiwa dan hatinya serta mengungkapkan
berbagai permasalahan yang dihadapinya. Ibupun menanggapinya dan berusaha untuk
mengatasinya.
Ibu teladan
selalu menyempatkan diri bermain dan bercanda dan berbasa-basi dengan anak,
menyampaikan ungkapan-ungkapan yang menyenangkan, lemah-lembut dan penuh kasih
sayang tanpa pilih kasih. Semua anaknya semakin cinta, sayang dan tidak pernah
merasa bosan mendengar arahan dan
bimbingannya. Dengan kesadaran hati mereka menjalankan perintah dan menetapkan
nasihatnya; lidah mereka basah memanjatkan doa dan mereka senantiasa berbakti,
menghargai dan mengormatinya.
Siraman kasih
sayang ibu menjadi sumber inspirasi, kebaikan, kreasi, faktor kebahagian dan
kesejahteraan anak. Inilah sesuatu yang sangat berharga dan mulia pada kodrat
kewanitaan, yang menjadi taman surgawi dunia. Ibu teladan akan selalu menjaga
perkataan dan perbuatannya yang akan diteladani anak. Ibu teladan tidak
kehilangan kesadaran dan keseimbangan emosinya sampai tega menyumpahi anaknya.
Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian menyumpahi diri kalian; jangan pula
menyumpahi anak-anak kalian dan harta kalian. Kalian tidak mengetahui saat
permintaan (doa) dikabulkan sehingga Allah akan mengabulkan sumpah itu.”
Ibu teladan
selalu mengawasi pendidikan anak dan mengarahkan anak dalam memilih buku
bacaan, majalah,teman, kegemaran,sekolah,guru, dan saran informasi serta segala
sesuatu yang mempunyai pengaruh dalam membentuk kepribadian anak, mendidik
mental, jiwa dan akidah mereka. Itu ia lakukan dengan cara yang baik, tepat dan
menyelamatkan serta selalu berkoordinasi dan berkomunikasi dengan suami.
Ibu teladan bisa
menyusup dalam jiwa anak yang paling tersembunyi lalu menanamkan sifat mulia
dan nilai islam yang luhur dengan baik dan tepat; memberikan teladan, begaul dan
memperlakukannya dengan baik, penuh perhatian, kelembutan, persamaan dan
keadilan; serta memberinya nasehat dan bimbingan. Anak pun tumbuh normal dengan
kedewasaan, wawasan luas,pemikiran matang, sholeh, berbakti, memberikan
sumbangan yang dibutuhkan dan membangun di berbagai lini kehidupan.
Muslimah dalam Aktivis dakwah
Setiap Muslimah
dalam proses aktivitas dakwah, harus senantiasa membagun dirinya agar memiliki
karakter pemimpin yang baik. Beberapa karakter pemimpin yang baik di antaranya
adalah :
1. Tidak bergaya
intruksional
Pemimpin yang
sesungguhnya bukan sekedar mengumpulkan massa, lalu memaksa melakukan ini atau
itu dengan gaya instruksi. Hal seperti ini hanya bisa dilakukan di kantor, yang
dilakukan oleh atasan kepada para karyawannya yang digaji. Kepemimpinan dalam
dakwah dan kepemimpinan di tengah masyarakat bersifat sosial,sukarela dan tidak
dibayar. Jadi pemimpin bergaya istrusional dan diktaktor, yang hanya
mengandalkan controling dan monitoring tidak akan berhasil. Kepemimpinan
seperti itu hanya akan menghasilkan suasana penuh ketakutan. Rasa ketakutan
akan mematikan potensi seseorang, karena selalu hidup dalam suasana penuh
tekanan dan keterpaksaan, bukan kepatuhan.
2. Pendekatan ide
kepemimpinan berpikir
Pemimpin yang
baik harus melakukan melakukan pendekatan yang benar terhadap sekelilingnya.
Dia harus berbaur dan menyatu dengan orang-orang yang dipimpinnya, bukannya
mengambil jarak dan menjadi mercusuar bagi sekelilignya.
Kepemimpinan
dakwah harus menggunakan pendekatan ide, karena kepemimpinan dakwah adalah
kepemimpinan berpikir. Aktivitas dakwah harus dapat menggerakan orang-orang di
sekitarnya. Jadi pemimpin yang baik harus bisa menjadi ispirator dan motivator,
bukan diktaktor. Orang-orang yang dipimpinnya pun bergerak karena kepemimpinan
berpikir,bukan karena taklif (instruksi).
3. Selalu berprasagka
baik
Aktivitas dakwah
tidak boleh diliputi prasangka buruk (su`uzhan), tetapi selalu diwarnai
prasangka baik (hushnuzhan). Jadi, pemimpin jangan hanya melihat kesalahan atau
kelemahan dari orang-orang di sekelilingnya, tetapi harus bisa menunjukan
kebaikan mereka sehingga mereka selalu berpikir optimis dan selanjutnya akan
menimbulkan rasa percaya diri untuk bisa meraih kesuksesan.
4. Permudahlah, jangan
mempersulit
Buatlah segala
sesuatu menjadi mudah, dan jangan dipersulit. Rasulullah Saw ketika menyeru
kepada manusia tidak pernah memaksa, tetapi selalu mengingatkan pada
janji-janji Allah. Pada saat Perang Khandaq, ketika Beliau meminta-minta
berulang-ulang kepada para Sahabat agar ada yang memata-matai musuh untuk
mencari informasi, dan tidak ada yang merespon, Beliau tidak mencela para
sahabat, tetapi mengingatkan bahwa Allah akan memberikan kebaikan kepada kita
kalau kita melakukan perintah-Nya. Akhirnya beliau mengutus Huzaifah untuk
tugas spionase tersebut.
5. Memahami realitas
manusia sebagai manusia
Semua manusia
mempunyai kelemahan. Pemimpin harus selalu menasehati, jangan pernah bosan.
Abdurrahman bin Rawahah sebagai komandan perang tidak pernah mengatakn kepada
pasukannya,”Kalian kan para Sahabat, ko takut perang.” Namun beliau mengatakan
,”Kita berjuang dengan kekuatan iman kepada Allah dan bukan dengan kekuatan
jumlah atau fisik.
Jadi pemimpin
yang baik harus memiliki pengertian terhadap orang yang dipimpinnya, lalu
memotivasi dengan mengingatkan tentang ketaatan kepada Allah. Dengan demikian
pemimpin tesebut akan mendapat banyak kepercayaan dari orang-orang di
sekelilingnya.
6. Memberikan
kenyamanan kepada yang dipimpin
Pemimpin yang
baik ,ketika berada dimanapun dia disukai,dicintai,bahkan ditunggu-tunggu
sebagai tempat curhat, mencari solusi; bahkan sebaliknya, menimbulkan
ketakutan. Ia memiliki kemampuan empati kepada orang lain dan mau mendengarkan
masukan-masukan dari yang dipimpinnya, ia pun berusaha mencari tahu
kesalahannya sebagai pemimpin dari orang lain.
Ketika ada
kesalahan, justru mengingatkan bahwa kita masih memiliki banyak
kebaikan-kebaikan lain sehinga setiap kesalahan pasti ada jalan keluarnya, dan
memberikan keyakinan bahwa kita pasti bisa.
7. Kondisikan selalu
hubungan sebuah tim
Tujuan dakwah
yang agung yaitu melanjutkan kembali kehidupan islam, memerlukan sebuah
kerjasama tim Yang solid. Oleh karena itu, setiap pemimpin perlu mengkondisikan
hubungan tim dalam dakwahnya. Diperlukan upaya pemetaan terhadap potensi dan
kondisi yang ada pada setiap individu dan sekitarnya, kemudian merencanakan
bersama apa yang bisa dilakukan dengan potensi dan kondisi yang ada.
Selayaknya sebuah
tim, kekurangan dari yang satu akan
ditutupi oleh kelebihan dari yang lain.
Khatimah
Dengan
karakteristik pemimpin yang dipaparkan di atas, maka setiap orang akan
termotivasi dengan mengatakan,”Apa yang bisa kita berikan untuk islam dan
dakwah ini?
Wallahu
a`lam bi ash-shawab
(AL-WA`IE No.93 Tahun VIII, 1-31 Mei 2018)
No comments:
Post a Comment